Aswin Weblog

"Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain"

  • Blog Stats

    • 172,782 hits
  • Kalender

    Agustus 2010
    M S S R K J S
    « Jul   Sep »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Sign by Aswin - For Information

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.09/MEN/VII/2010 TENTANG OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Posted by aswin pada 14 Agustus 2010


UNTUK MENDOWNLOAD FILE PDFNYA

KLIK

https://docs.google.com/viewer?a=v&pid=explorer&chrome=true&srcid=0B-3dC1HEsaNlODRkMjdlMjAtMmUxMy00MDQzLThlNDktM2RmMTYwMjhhNjIx&hl=in

 

MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR PER.09/MEN/VII/2010

TENTANG

OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang    :    bahwa    dengan   berkembangnya   penggunaan     jenis  dan  kapasitas

pesawat angkat dan angkut maka perlu menyempurnakan Peraturan

Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.01/MEN/1989 tentang Kwalifikasi

dan    Syarat-Syarat  Operator   Keran   Angkat  dengan     Peraturan

Menteri;

Mengingat   :     1.  Undang-Undang      Nomor  1   Tahun   1970  tentang  Keselamatan

Kerja   (Lembaran     Negara    Republik  Indonesia   Nomor     1,

Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918);

2.  Undang-Undang        Nomor     13      Tahun     2003     tentang

Ketenagakerjaan   (Lembaran   Negara   Republik  Indonesia Tahun

2003    Nomor    13, Tambahan      Lembaran    Negara    Republik

Indonesia Nomor 4279);

3.  Undang-Undang   Nomor  32   Tahun   2004   tentang   Pemerintahan

Daerah    (Lembaran   Negara   Republik  Indonesia  Tahun    2004

Nomor   125,   Tambahan   Lembaran   Negara   Republik Indonesia

Nomor 4437);

4.  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007

tentang   Pembagian    Urusan   Pemerintah   antara   Pemerintah,

Pemerintah     Daerah     Provinsi   dan    Pemerintah    Daerah

Kabupaten/Kota;

5.  Peraturan Presiden Republik    Indonesia Nomor 21 Tahun 2010

tentang Pengawasan Ketenagakerjaan;

6.  Keputusan    Presiden   Republik  Indonesia  Nomor   84/P Tahun

2009;

7.  Peraturan   Menteri  Tenaga    Kerja  Republik Indonesia  Nomor

PER.05/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan          :   PERATURAN             MENTERI         TENAGA          KERJA         DAN

TRANSMIGRASI          TENTANG        OPERATOR        DAN     PETUGAS

PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksudkan dengan:

1.  Operator     adalah    tenaga   kerja   yang   mempunyai      kemampuan       dan   memiliki

keterampilan khusus dalam pengoperasian pesawat angkat dan angkut.

2.  Petugas      adalah  tenaga     kerja  yang    mempunyai      kemampuan       dan   memiliki

keterampilan khusus di bidang pesawat angkat dan angkut yang terdiri dari juru ikat

(rigger) dan teknisi.

3.  Juru  ikat (rigger) adalah tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan   memiliki

keterampilan      khusus   dalam    melakukan     pengikatan    barang    serta  membantu

kelancaran pengoperasian peralatan angkat.

4.  Teknisi adalah petugas pelaksana pemasangan, pemeliharaan, perbaikan dan/atau

pemeriksaan peralatan/komponen pesawat angkat dan angkut.

5.  Pesawat angkat dan angkut adalah suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk

memindahkan, mengangkat muatan baik bahan atau orang secara vertikal dan/atau

horizontal dalam jarak yang ditentukan.

6.  Peralatan    angkat    adalah    alat  yang   dikonstruksi   atau   dibuat   khusus    untuk

mengangkat naik dan menurunkan muatan.

7.  Pita transport adalah suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk memindahkan

muatan secara terus menerus (continue) dengan menggunakan bantuan pita.

8.  Pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan adalah suatu pesawat

atau    alat  yang  digunakan     untuk  memindahkan      muatan    atau  orang     dengan

menggunakan   kemudi   baik   di   dalam   atau   di   luar   pesawat   dan   bergerak   di  atas

landasan maupun permukaan.

9.  Alat angkutan jalan rel adalah suatu alat angkutan yang bergerak di atas jalan rel.

10.  Lisensi  Keselamatan   dan   Kesehatan   Kerja   yang   selanjutnya   disingkat  Lisensi  K3

adalah kartu tanda kewenangan seorang operator untuk mengoperasikan pesawat

angkat    dan   angkut  sesuai   dengan  jenis   dan  kualifikasinya  atau  petugas   untuk

penanganan pesawat angkat dan angkut.

11.  Buku kerja  (log book) adalah buku kerja yang diberikan kepada seorang operator

untuk    mencatat   kegiatan   selama    mengoperasikan     pesawat    angkat   dan  angkut

sesuai dengan jenis  dan kualifikasinya  atau petugas  untuk mencatat penanganan

pesawat angkat dan angkut.

12.  Pengurus     adalah   orang    yang   mempunyai      tugas  memimpin       langsung   sesuatu

tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.

13.  Pengusaha adalah:

a. orang   perseorangan,   persekutuan   atau   badan   hukum  yang   menjalankan   suatu

perusahaan milik sendiri;

b. orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang secara berdiri sendiri

menjalankan perusahaan bukan miliknya; dan

c. orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang berada di Indonesia

mewakili   perusahaan   sebagaimana   dimaksud   dalam  huruf   a   dan  huruf  b   yang

berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

14.  Pegawai     pengawas        ketenagakerjaan      yang   selanjutnya      disebut    Pengawas

Ketenagakerjaan adalah pegawai negeri sipil yang diangkat dan ditugaskan dalam

jabatan fungsional pengawas ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

15.  Direktur    Jenderal     adalah    Direktur   Jenderal     yang    membidangi     pembinaan

pengawasan ketenagakerjaan.

Pasal 2

Peraturan      Menteri   ini  mengatur     kualifikasi,  syarat-syarat,   wewenang,      kewajiban

operator dan petugas pesawat angkat dan angkut.

Pasal 3

Pengusaha atau pengurus dilarang mempekerjakan operator dan/atau petugas pesawat

angkat dan angkut yang tidak memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 4

Jumlah operator  pesawat angkat dan angkut yang dipekerjakan oleh pengusaha atau

pengurus   harus   memenuhi   kualifikasi   dan   jumlah   sesuai   dengan   jenis   dan   kapasitas

pesawat angkat dan angkut sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri

ini.

BAB II

KUALIFIKASI DAN  SYARAT-SYARAT

OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Bagian  Kesatu

Operator Pesawat Angkat dan Angkut

Pasal 5

(1) Pesawat angkat dan angkut harus dioperasikan oleh operator pesawat angkat dan

angkut yang mempunyai Lisensi K3 dan buku kerja sesuai jenis dan kualifikasinya.

(2) Operator     pesawat    angkat  dan    angkut   sebagaimana       dimaksud     pada   ayat   (1)

meliputi  operator    peralatan    angkat,   pita  transport,   pesawat    angkutan   di   atas

landasan dan di atas permukaan, dan alat angkutan jalan rel.

Paragraf    Kesatu

Operator Peralatan Angkat

Pasal 6

(1) Operator   peralatan   angkat   meliputi   operator  dongkrak   mekanik     (lier),  takal,   alat

angkat    listrik/lift barang/passenger    hoist, pesawat    hidrolik, pesawat    pneumatik,

gondola, keran mobil, keran kelabang, keran pedestal, keran menara, keran gantry,

keran overhead, keran portal, keran magnet, keran lokomotif, keran dinding, keran

sumbu putar,  dan mesin pancang.

(2) Operator   peralatan   angkat   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (1)   diklasifikasikan

sebagai berikut:

a.  operator kelas I;

b.  operator kelas II; dan

c.  operator kelas Ill.

(3) Pengklasifikasian     sebagaimana      dimaksud     pada    ayat   (2)  tidak   berlaku   bagi

operator gondola, dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin pancang.

Pasal 7

(1) Operator peralatan angkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTA/sederajat;

b. berpengalaman       sekurang-kurangnya      5   (lima)  tahun   membantu     pelayanan    di

bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 23 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

(2) Operator peralatan angkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal                 6 ayat (2) huruf b

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTA/sederajat;

b. berpengalaman       sekurang-kurangnya       3  (tiga)  tahun   membantu     pelayanan     di

bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 21 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

(3) Operator peralatan angkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf c

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;

b. berpengalaman       sekurang-kurangnya       1  (satu)  tahun   membantu      pelayanan    di

bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

(4) Operator gondola, dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin pancang sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;

b. berpengalaman       sekurang-kurangnya       1  (satu)  tahun   membantu     pelayanan     di

bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 8

Operator     peralatan    angkat   kelas   III  dapat  ditingkatkan    menjadi   operator    peralatan

angkat    kelas   II dan  operator    peralatan    angkat   kelas   II dapat   ditingkatkan   menjadi

operator peralatan angkat kelas I dengan persyaratan sebagai berikut:

a.  berpengalaman   sebagai   operator   sesuai   dengan  kelasnya   sekurang-kurangnya   2

(dua) tahun terus menerus; dan

b.  lulus uji operator peralatan angkat sesuai dengan kualifikasinya.

Paragraf Kedua

Operator Pita Transport

Pasal 9

Operator pita transport meliputi operator eskalator, ban berjalan, dan rantai berjalan.

Pasal 10

Operator    pita   transport   sebagaimana       dimaksud     dalam    Pasal   9  harus     memenuhi

persyaratan sebagai berikut:

a.  sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;

b.  berpengalaman         sekurang-kurangnya        2  (dua)    tahun    membantu      pelayanan     di

bidangnya;

c.  berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d.  umur sekurang-kurangnya 20 tahun; dan

e.  memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Paragraf ketiga

Operator Pesawat Angkutan di atas Landasan dan di atas               Permukaan

Pasal 11

Operator   pesawat  angkutan  di  atas   landasan   dan   di   atas   permukaan   meliputi  antara

lain   operator:  dump  truk,   truk   derek/trailer,   alat   angkutan   bahan   berbahaya,   traktor,

kereta gantung, shovel, excavator/back hoe, compactor, mesin giling, bulldozer, loader,

tanden roller, tire roller, grader, vibrator, side boom, forklift dan/atau lift truk.

Pasal 12

Operator     forklift  dan/atau     lift truk   sebagaimana        dimaksud       dalam    Pasal     11

diklasifikasikan sebagai berikut:

a.  operator kelas I; dan

b.  operator kelas II.

Pasal 13

Operator  pesawat angkutan di atas landasan dan di atas  permukaan sebagaimana di

maksud  dalam  Pasal       11  kecuali   operator  forklift dan/atau    lift  truk harus   memenuhi

persyaratan sebagai berikut:

a.  sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;

b.  berpengalaman       sekurang-kurangnya        1    (satu)   tahun   membantu       pelayanan    di

bidangnya;

c.  berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d.  umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan

e.  memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 14

(1)  Operator forklift  dan/atau  lift  truk  kelas   I sebagaimana   dimaksud   dalam Pasal  12

huruf a harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTA/sederajat;

b. berpengalaman        sekurang-kurangnya       3 (tiga)   tahun   membantu      pelayanan     di

bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 21 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

(2)  Operator forklift  dan/atau  lift truk  kelas II sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  12

huruf b harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.  sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;

b.  berpengalaman   sekurang-kurangnya   1  (satu)   tahun   membantu   pelayanan   di

bidangnya;

c.  berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d.  umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan

e.  memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 15

Operator  forklift  dan/atau  lift  truk  kelas   II   dapat   ditingkatkan   menjadi   operator  forklift

dan/atau lift truk kelas I dengan persyaratan sebagai berikut:

a.  berpengalaman   sebagai   operator   sesuai   dengan  kelasnya   sekurang-kurangnya   2

(dua) tahun terus menerus; dan

b.  lulus uji operator forklift dan/atau lift truk sesuai dengan kualifikasinya.

Paragraf Keempat

Operator Alat Angkutan Jalan Rel

Pasal 16

Operator alat angkutan jalan rel meliputi operator lokomotif dan Iori.

Pasal 17

Operator    alat  angkutan    jalan  rel sebagaimana      dimaksud     dalam  Pasal   16   harus

memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTA/sederajat;

b. berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun di bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Bagian Kedua

Petugas Pesawat Angkat dan Angkut

Pasal 18

(1) Pengoperasian   pesawat   angkat   dan   angkut   dapat   dibantu   oleh   petugas  pesawat

angkat   dan   angkut  yang  mempunyai  Lisensi  K3 dan   buku   kerja  sesuai   jenis   dan

kualifikasinya.

(2) Petugas pesawat angkat dan angkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

juru ikat (rigger) dan teknisi.

Paragraf Kesatu

Juru Ikat (rigger)

Pasal 19

Juru   ikat   (rigger)  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal   18  ayat  (2)  harus   memenuhi

persyaratan sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;

b. berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun di bidangnya;

c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan

e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Paragraf Kedua

Teknisi

Pasal 20

Teknisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18            ayat (2) harus memenuhi persyaratan

sebagai berikut:

a. sekurang-kurangnya        berpendidikan    SLTA/sederajat     dan/atau    berpengalaman      di

bidangnya sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun;

b. berbadan sehat menurut keterangan dokter;

c. umur sekurang-kurangnya 21 tahun; dan

d. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

BAB III

TATA CARA MEMPEROLEH LISENSI K3 DAN BUKU KERJA

Pasal 21

Direktur   Jenderal  atau   pejabat   yang   ditunjuk  menerbitkan  Lisensi  K3   dan   buku   kerja

operator atau petugas pesawat angkat dan angkut.

Pasal 22

(1) Untuk    memperoleh     Lisensi  K3  dan    buku   kerja operator   atau   petugas   pesawat

angkat    dan   angkut  sebagaimana       dimaksud    dalam   Pasal    21,  pengusaha     atau

pengurus     mengajukan     permohonan      tertulis  kepada    Direktur    Jenderal  dengan

melampirkan:

a. copy ijazah terakhir;

b. surat    keterangan    berpengalaman      kerja   membantu       operator    atau   petugas

pesawat angkat dan angkut sesuai bidangnya yang diterbitkan oleh perusahaan;

c. surat keterangan berbadan sehat dari dokter;

d. copy kartu tanda penduduk;

e. copy sertifikat kompetensi sesuai dengan jenis dan kualifikasinya; dan

f. pas photo berwarna 2 x 3 (3 lembar) dan 4 x 6 (2 lembar).

(2) Permohonan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pemeriksaan

dokumen oleh Tim.

(3) Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Direktur

Jenderal menerbitkan Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 23

(1)  Lisensi  K3 dan   buku   kerja  berlaku untuk   jangka   waktu  5   (lima   tahun),   dan   dapat

diperpanjang untuk jangka waktu yang sama.

(2)  Permohonan perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada

Direktur Jenderal dengan melampirkan:

a. lisensi K3 lama yang asli;

b. buku kerja asli yang telah diperiksa oleh atasannya;

c. surat keterangan berbadan sehat dari dokter;

d. copy kartu tanda penduduk;

e. copy sertifikat kompetensi     sesuai dengan jenis dan kualifikasinya; dan

f. pas photo berwarna 2 x 3 (3 lembar) dan 4 x 6 (2 lembar).

Pasal 24

Dalam hal sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf e

dan   Pasal   23  ayat   (2)  huruf   e  belum   dapat   dilaksanakan   maka   dapat   menggunakan

sertifikat pembinaan K3 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal.

Pasal 25

Buku     kerja  operator   atau  petugas    sebagaimana      dimaksud    dalam    Pasal   21  harus

diperiksa setiap 3 bulan oleh atasannya.

Pasal 26

Lisensi K3 dan buku kerja hanya berlaku selama operator atau petugas pesawat angkat

dan angkut yang bersangkutan bekerja di perusahaan yang mengajukan permohonan.

Pasal 27

Lisensi K3 dan buku kerja dapat dicabut apabila operator atau petugas pesawat angkat

dan angkut yang bersangkutan terbukti:

a. melakukan   tugasnya tidak   sesuai dengan   jenis   dan   kualifikasi   pesawat   angkat   dan

angkut;

b. melakukan     kesalahan,    atau  kelalaian,  atau    kecerobohan     sehingga    menimbulkan

keadaan berbahaya atau kecelakaan kerja; dan

c. tidak  melaksanakan  kewajibannya   sebagaimana  dimaksud   dalam   Pasal  34  sesuai

bidangnya.

BAB IV

KEWENANGAN OPERATOR DAN PETUGAS

Pasal 28

(1)  Operator peralatan angkat Kelas I sebagaimana dimaksud dalam Pasal                 6 ayat (2)

huruf a berwenang:

a. mengoperasikan      peralatan  angkat     sesuai   dengan  jenisnya    dengan    kapasitas

lebih dari 100 ton atau tinggi menara lebih dari 60 meter; dan

b. mengawasi dan membimbing kegiatan operator Kelas II dan/atau operator Kelas

III, apabila perlu didampingi oleh operator Kelas II dan/atau Kelas III.

(2)  Operator peralatan angkat Kelas II sebagaimana dimaksud dalam Pasal                6 ayat (2)

huruf b berwenang:

a. mengoperasikan      peralatan  angkat     sesuai   dengan   jenisnya  dengan    kapasitas

Iebih dari  25   ton   sampai  kurang   dari  100   ton  atau   tinggi  menara  lebih   dari   40

meter sampai dengan 60 meter; dan

b. mengawasi       dan   membimbing       kegiatan    operator   Kelas    III, apabila  perlu

didampingi oleh operator Kelas Ill.

(3)  Operator peralatan angkat Kelas III sebagaimana dimaksud dalam Pasal               6 ayat (2)

huruf   c berwenang      mengoperasikan     peralatan    angkat    sesuai   jenisnya  dengan

kapasitas kurang dari 25 ton atau tinggi menara sampai dengan 40 meter.

(4)  Operator peralatan angkat jenis gondola , dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin

pancang     sebagaimana        dimaksud      dalam     Pasal    6   ayat    (1)  berwenang

mengoperasikan gondola, dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin pancang.

Pasal 29

Operator      pita   transport  sebagaimana        dimaksud      dalam    Pasal   9   berwenang

mengoperasikan eskalator, ban berjalan, dan rantai berjalan.

Pasal 30

(1)  Operator pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 11  berwenang mengoperasikan antara lain operator: dump

truk,   truk   derek/trailer,   alat   angkutan   bahan   berbahaya,   traktor,   kereta   gantung,

shovel,   excavator/back     hoe,   compactor,   mesin    giling,  bulldozer,  loader,  tanden

roller, tire roller, grader, vibrator, side boom, forklift dan/atau lift truk.

(2)  Operator forklift  dan/atau  lift truk  kelas   I sebagaimana   dimaksud   dalam  Pasal   12

huruf a berwenang:

a. mengoperasikan       forklift dan/atau   lift truk  sesuai    dengan     jenisnya   dengan

kapasitas lebih dari 15 ton; dan

b. mengawasi dan membimbing kegiatan operator Kelas II.

(3)  Operator forklift  dan/atau  lift truk  kelas II sebagaimana dimaksud dalam  Pasal 12

huruf b berwenang mengoperasikan forklift dan/atau lift truk sesuai jenisnya dengan

kapasitas maksimum 15 ton.

Pasal 31

Operator   alat   angkutan   jalan   rel  sebagaimana   dimaksud   dalam   Pasal   16  berwenang

mengoperasikan lokomotif beserta rangkaiannya dan lori.

Pasal 32

Juru   ikat  (rigger)  sebagaimana       dimaksud     dalam   Pasal     18 ayat    (2) berwenang

melakukan:

a.   pengikatan barang atau bahan sesuai dengan prosedur pengikatan; dan

b.   pemberian aba-aba pengoperasian pesawat angkat dan angkut.

Pasal 33

Teknisi   pesawat   angkat  dan   angkut  sebagaimana   dimaksud   dalam  Pasal   18 ayat   (2)

berwenang melakukan:

a.   pemasangan, perbaikan, atau perawatan pesawat angkat dan angkut; dan

b.   pemeriksaan, penyetelan, dan mengevaluasi keadaan pesawat angkat dan angkut.

BAB V

KEWAJIBAN OPERATOR              DAN PETUGAS

Pasal 34

(1)  Operator pesawat angkat dan angkut berkewajiban untuk:

a. melakukan pengecekan terhadap kondisi atau kemampuan kerja pesawat angkat

dan   angkut,   alat-alat   pengaman,  dan   alat-alat   perlengkapan   lainnya   sebelum

pengoperasian pesawat angkat dan angkut;

b. bertanggung   jawab  atas   kegiatan   pengoperasian   pesawat   angkat   dan   angkut

dalam keadaan aman;

c. tidak meninggalkan tempat pengoperasian pesawat angkat dan angkut, selama

mesin dihidupkan;

d. menghentikan       pesawat    angkat   dan   angkut   dan   segera   melaporkan     kepada

atasan, apabila   alat   pengaman   atau   perlengkapan   pesawat   angkat   dan   angkut

tidak berfungsi dengan baik atau rusak;

e. mengawasi dan mengkoordinasikan operator kelas II dan operator kelas III bagi

operator    kelas  I, dan   operator   kelas  II  mengawasi    dan   mengkoordinasikan

operator kelas III;

f. mematuhi peraturan dan melakukan tindakan pengamanan yang telah ditetapkan

dalam pengoperasian pesawat angkat dan angkut; dan

g. mengisi     buku   kerja  dan   membuat     laporan   harian   selama   mengoperasikan

pesawat angkat dan angkut.

(2)  Juru ikat (rigger) berkewajiban untuk:

a. melakukan   pemilihan   alat   bantu   angkat   sesuai   dengan   kapasitas beban   kerja

aman;

b. melakukan      pengecekan     terhadap    kondisi  pengikatan    aman    dan   alat  bantu

angkat yang digunakan;

c. melakukan perawatan alat bantu angkat;

d. mematuhi       peraturan    dan  melakukan      tindakan     pengamanan      yang    telah

ditetapkan; dan

e. mengisi buku kerja dan membuat laporan harian sesuai dengan pekerjaan yang

telah dilakukan.

(3)  Teknisi berkewajiban untuk:

a. melaporkan  kepada atasan langsung, kondisi pesawat angkat dan angkut yang

menjadi tanggung jawabnya jika tidak aman atau tidak layak pakai;

b. bertanggung jawab atas hasil pemasangan,  pemeliharaan, perbaikan, dan/atau

pemeriksaan peralatan/komponen pesawat angkat dan angkut;

c. mematuhi       peraturan    dan  melakukan      tindakan     pengamanan      yang    telah

ditetapkan;

d. membantu   pegawai   pengawas   ketenagakerjaan  spesialis   pesawat   angkat   dan

angkut   dalam   pelaksanaan      pemeriksaan    dan   pengujian   pesawat    angkat   dan

angkut; dan

e. mengisi buku kerja dan membuat laporan harian sesuai dengan pekerjaan yang

telah dilakukan.

BAB VI

PEMBINAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pasal 35

(1)  Pelaksanaan pembinaan K3 bagi operator dan petugas pesawat angkat dan angkut

dilakukan oleh:

a. instansi yang  lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang  ketenagakerjaan

pada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota; dan

b. perusahaan  jasa      keselamatan    dan   kesehatan    kerja bidang    pembinaan  yang

ditunjuk oleh Direktur Jenderal berkoordinasi dengan instansi yang lingkup tugas

dan   tanggung   jawabnya   di   bidang  ketenagakerjaan  pada   pemerintah  provinsi

dan/atau pemerintah kabupaten/kota.

(2)  Dalam    hal  perusahaan     akan   melakukan    pembinaan     secara   mandiri   (in  house

training) maka harus mengajukan permohonan ke             instansi yang lingkup tugas dan

tanggung jawabnya di bidang  ketenagakerjaan pada pemerintah provinsi dan/atau

pemerintah kabupaten/kota.

(3) Materi    pembinaan    K3  bagi  operator   dan  petugas   pesawat    angkat   dan  angkut

ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

BAB VII

PENGAWASAN

Pasal 36

Pengawasan      terhadap    ditaatinya Peraturan   Menteri    ini  dilakukan  oleh  Pengawas

Ketenagakerjaan.

BAB VIII

SANKSI

Pasal 37

Pengusaha  atau  pengurus  yang  mempekerjakan  operator   dan/atau  petugas  pesawat

angkat dan angkut yang tidak memiliki Lisensi K3 dan buku kerja, dan tidak memenuhi

kualifikasi   dan   jumlah  sebagaimana   dimaksud   dalam  Pasal   3  dan   Pasal   4  dikenakan

sanksi sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970.

BAB IX

ATURAN PERALIHAN

Pasal 38

(1) Bagi operator atau petugas pesawat angkat dan angkut yang telah memiliki  Lisensi

K3 dan buku kerja sebelum berlakunya  Peraturan Menteri ini tetap berlaku sampai

berakhir jangka waktu Lisensi K3 dan buku kerja.

(2)  Setelah   berakhir   jangka   waktu   berlakunya   sebagaimana   dimaksud  pada  ayat   (1),

dapat diperpanjang sesuai dengan         prosedur sebagaimana dimaksud dalam Pasal

23.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 39

Dengan   ditetapkannya  Peraturan  Menteri   ini   maka   Peraturan   Menteri   Tenaga   Kerja

Nomor    PER.01/MEN/1989        tentang   Kwalifikasi   dan  Syarat-syarat    Operator   Keran

Angkat dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 40

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar    setiap  orang  mengetahuinya,    Peraturan   Menteri  ini  diundangkan   dengan

penempatan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 13 Juli 2010

MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

REPUBLIK INDONESIA,

Drs. H.A MUHAIMIN ISKANDAR, M.Si.

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal 13 Juli 2010

MENTERI

HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR, SH.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 340

LAMPIRAN

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR PER.09/MEN/VII/2010

TENTANG

OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

JUMLAH OPERATOR YANG DIPERLUKAN

UNTUK SETIAP PENGOPERASIAN PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Jenis dan Kapasitas                        Kualifikasi dan Jumlah Operator

Nomor

Pesawat Angkat dan Angkut                 Kelas III         Kelas II          Kelas I

I    Peralatan Angkat

Keran    mobil,  keran  kelabang,   keran   portal,  keran  magnet,   keran  lokomotif,  pesawat

1.1

hidrolik, dan pesawat pneumatik.

s/d 25 ton                                      1 orang             -                 -

> 25 ton dan    100 ton                         1 orang          1 orang              -

> 100 ton dan     300 ton                       1 orang          1 orang           1 orang

> 300 ton dan     600 ton                      2 orang           1 orang           1 orang

> 600 ton                                      2 orang           2 orang           1 orang

Alat angkat listrik/lift barang/passenger hoist, keran overhead, keran pedestal, keran tetap,

1.2

keran gantry, keran dinding dan keran sumbu putar.

s/d 25 ton                                      1 orang             -                 -

> 25 ton dan    100 ton                            -             1 orang              -

> 100 ton dan     300 ton                       1 orang             -              1 orang

> 300 ton dan     600 ton                          -             1 orang           1 orang

> 600 ton                                       1 orang          1 orang           1 orang

1.3    Keran menara (tower crane).

Tinggi menara  s/d 40 m                         1 orang             -                 -

Tinggi menara > 40 m s/d 60 m                      -             1 orang              -

Tinggi menara > 60 m                               -                -              1 orang

Gondola, dongkrak mekanik (lier), takal,

1.4                                                              non kelas         1 orang

dan mesin pancang.

II.   Pita transport.                                                    non kelas         1 orang

Pesawat angkutan di atas landasan dan diatas

III.                                                                     non kelas         1 orang

permukaan.

3.1    Jenis forklift dan/atau lift truk s/d 15 ton.        -             1 orang              -

3.2    Jenis forklift dan/atau lift truk > 15 ton.          -                -              1 orang

IV.   Alat angkutan jalan ril.                                           non kelas         1 orang

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 13 Juli 2010

MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

REPUBLIK INDONESIA,

Drs. H.A MUHAIMIN ISKANDAR, M.Si.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.